Minggu, 24 Juli 2011

Sunat Tak Hanya Cegah HIV Tapi Juga Kanker Penis

Selama ini manfaat sunat pada laki-laki selalu dikaitkan dengan risiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Kini manfaat sunat bertambah setelah ditemukan bahwa pemotongan kulit penis bisa mencegah kanker di bagian tersebut.

Brian Morris, MD, seorang peneliti dari University of Sydney mengatakan risiko kanker penis pada laki-laki yang tidak disunat adalah 1:1.000. Angka itu sebenarnya kecil, namun tetap lebih besar dibandingkan risiko pada laki-laki yang disunat yaini 1:50.000.

"Kanker penis lebih banyak ditemukan di negara-negara yang penduduk laki-lakinya jarang disunat. Namun hubungan sunat dengan kanker bukan hanya semacam kecenderungan, ada alasan ilmuah di belakangnya," ungkap Morrris seperti dikutip dari MensHealth.com, Sabtu (23/7/2011).

Menurut Morris, kulit yang ketat di bagian depan membuat alat kemaluan laki-laki yang tidak disunat jadi sulit dibersihkan. Jika menumpuk, kotoran yang menempel di bagian itu dapat memicu radang atau inflamasi yang merupakan salah satu faktor pencetus kanker penis.

Faktor lain yang mendasarinya adalah infeksi Human Pappoloma Virus (HPV), sejenis virus yang ditularkan melalui hubungan kelamin dan pada perempuan bisa memicu kanker serviks atau leher rahim. Kondisi kepala penis yang tertutup cenderung lembab, sehingga disukai oleh HPV.

Meski infeksi HPV bisa dicegah, Morris mengatakan bahwa vaksinasi saja tidak cukup. Vaksin yang ada saat ini hanya bisa mencegah infeksi 2 dari sekitar 20 jenis HPV, sehingga kadang-kadang dibutuhkan upaya pencegahan lain dalam hal ini sunat.

Kalaupun tetap memilih untuk tidak disunat, Morris menekankan agar laki-laki selalu menjaga kebersihan alat kelamin terutama di bagian yang tertutup kulup (kulit yang menutup kepala penis). Cara membersihkannya adalah dengan menarik kulup itu ke belakang, lalu dibersihkan sambil mandi.


sumber: detik.com

Kamis, 07 Juli 2011

Widy Vierra Di Culik Dan Diperkosa 3 Orang

Penyanyi Widy Vierra yang diduga menjadi korban penculikan dan kekerasan seksual sejak pukul 10.06 WIB berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dia ditunggui para personel Vierra yang lain, hingga selesainya proses visum sekitar pukul 14.15 WIB.
Saat seluruh personil Vierra meninggalkan rumah sakit, mereka tidak sedikit pun berkomentar dan mengaku berencana menggelar preskon di kantor Musica Record pada pukul 17.00 WIB.
Sementara Minola Sebayang, yang ditunjuk sebagai Kuasa Hukum Widy mengisahkan kronologis kejadian yang menimpa kliennya. Widy mengalami kejadian tidak mengenakkan itu Rabu (06/07/2011) dini hari.
“Jadi kronologisnya sekitar subuh, ketika Widy selesai nongkrong di sebuah cafe di Kemang. Karena dia orang yang mandiri, dia jalan sendiri mau pulang, pada saat nunggu taksi, awalnya dia nggak merasa ada yang aneh,” ungkap Minola Sebayang.
“Tapi ternyata ada mobil yang ngikutin, sempat manggil dan gangguin dia dan di suatu tempat gelap, ada satu orang turun menarik paksa Widy ke mobil,” sambungnya.
Ternyata di dalam mobil itu sudah ada tiga orang, yang seluruhnya tidak dikenal. Mereka mengancam Widy untuk tidak melawan. Dia pun berusaha tetap tenang dan berusaha bisa menguasai diri.
“Ada 3 orang, 2 orang di depan dan 1 yang di belakang, Widy nggak kenal sama ketiga orang itu. Dan sempat ada ancaman lah, namun Widy tetap tenang, tidak panik dengan membaca situasi, dia juga sempat melakukan upaya membuka pintu dan teriak untuk cari perhatian. Akhirnya Widy menceritakan siapa dia sebenarnya, kemudian dia diturunkan,” ungkapnya.
Widy diturunkan di daerah Kemang Place, Jakarta Selatan, antara pukul 4-5 pagi.

“Jam 4-5 pagi, dari Pizza Hut mungkin dia muter-muter dulu, lalu diturunkan di Kemang Place,” terangnya.


sumber.koranbaru.com

Sabtu, 18 Juni 2011

Benarkah Makan di Atas Jam 7 Malam Bikin Gemuk?

Bagi orang yang tengah menjalankan program penurunan berat badan atau diet, seringkali disarankan untuk tidak makan di atas jam 7 malam karena diyakini bisa bikin gemuk. Benarkah kabar tersebut?

Salah satu hal yang harus diperhatikan agar tubuh tidak menjadi gemuk adalah mengatur keseimbangan antara energi yang masuk dan keluar. Jika energi yang masuk lebih besar daripada yang dikeluarkan maka secara otomatis berat badan akan meningkat.

Hingga saat ini belum ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa makan di atas jam 7 malam bisa menyebabkan kenaikan berat badan, selama keseimbangan energi tersebut dipertahankan, seperti dikutip dari Livestrong, Sabtu (18/6/2011).

Tapi umumnya ada beberapa perubahan perilaku dan biologis yang terjadi sehingga mengubah keseimbangan energi yang dimiliki seseorang. Salah satunya adalah pada malam hari seseorang cenderung memiliki aktivitas fisik lebih sedikit dibanding siang hari, sehingga membuat energi yang keluar menjadi sedikit.

Jika ia mengonsumsi makanan dari mikronutrient yang memiliki nilai kalori tinggi, maka kelebihan kalori ini akan disimpan sebagai lemak di dalam tubuh. Umumnya energi yang berasal dari karbohidrat dan protein sebesar 4 kalori/gram sedangkan lemak sebesar 9 kalori/gram.

Jika ingin makan di malam hari sebaiknya berilah waktu minimal 2-3 jam sebelum tidur, serta jangan mengonsumsi makanan dengan jumlah kalori lebih besar daripada kalori yang dikeluarkan. Pada malam hari kalori yang dibakar cenderung lebih sedikit, jadi makanan yang dikonsumsi tidak sebanyak saat makan siang.

Jadi tidak bisa menjadikan jam 7 malam sebagai batas terakhir orang boleh makan, karena hal ini turut dipengaruhi oleh jam berapa orang tersebut akan tidur serta kecepatan metabolisme yang dimilikinya.

Pengeluaran energi sehari-hari berasal dari tingkat metabolisme yang dimiliki oleh orang tersebut meskipun ia sedang beristirahat (dipengaruhi oleh usia, berat badan dan jenis kelamin), jumlah energi yang dibutuhkan untuk mencerna dan menyerap makanan serta kegiatan fisik yang dilakukan.

Secara umum semakin malam tingkat metabolisme tubuh dalam mencerna makanan akan lebih lambat. Karenanya jika ia mengonsumsi makanan berat beberapa waktu menjelang tidur, maka secara otomatis makanan tersebut belum sepenuhnya dicerna dengan baik yang membuatnya cenderung mudah diubah menjadi lemak.



sumber: detikhealth.com

Senin, 06 Juni 2011

3 Bersaudara Kompak Bunuh Diri Karena Positif HIV

Bhavnagar, India, Tidak mudah bagi siapapun untuk menerima vonis terinfeksi HIV positif. Tak terkecuali bagi 3 gadis belia yang masih bersaudara ini, infeksi virus yang belum ada obatnya tersebut membuat ketiganya kompak bunuh diri dengan racun serangga.

Ketiga gadis malang asal desa Khadaliya di distrik Bhavnagar, India yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) ini terhitung sangat belia, karena yang tertua masih berusia 16 tahun. Sementara 2 adiknya masing-masing masih berusia 12 dan 10 tahun.

Diduga ketiga kakak beradik ini tewas dengan meminum racun serangga pada Jumat, (3/6/2011) malam karena putus asa dengan kondisi kesehatannya. Terlebih ibunya juga sudah lebih dahulu meninggal akibat komplikasi HIV/AIDS beberapa tahun sebelumnya.

"Kami tengah mengusut apakah tindakan nekat mereka dipicu oleh stigma negatif yang diterimanya," ungkap JR Zala, seorang pejabat kepolisian setempat seperti dikutip dari Timesofindia, Senin (6/6/2011).

Menurut Zala, masyarakat di sekitar tempat tinggal korban tidak terang-terangan mengucilkan ketiga gadis dengan HIV positif tersebut. Namun Zala mengakui, warga memang agak menjaga jarak sehingga hal ini diduga membuat ketiga korban merasa rendah diri.

Selain ada riwayat HIV positif yang menjangkiti semua anggota keluarga, ketiga korban diduga juga mengalami frustrasi dengan kondisi ekonominya. Satu-satunya anggota keluarga yang masih tersisa dan juga terinfeksi HIV, yakni ayahnya hanyalah seorang petani miskin.

Tak hanya di India, stigma negatif merupakan bentuk penderitaan lain pada pengidap HIV di seluruh dunia. Banyak orang beranggapan bahwa HIV adalah virus kotor, semacam hukuman bagi orang-orang yang memiliki perilaku menyimpang misalnya seks bebas dan memakai obat terlarang.

Padahal berbagai penelitian membuktikan, tingkat penularan HIV paling tinggi justru terjadi pada ibu ke anak dalam kandungannya melalui plasenta. Bahkan dalam beberapa kasus, penularan HIV terjadi melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi.



sumber: detikhealth.com

Sabtu, 04 Juni 2011

UNAIDS: Tingkat Penularan baru HIV Turun

Kepala badan urusan AIDS PBB, Michel Sidibe, mengatakan akses ke pengobatan akan mengubah tanggapan terhadap AIDS.
PBB mengatakan semakin banyak orang di seluruh dunia memperoleh akses pada obat HIV-AIDS, dan bahwa tingkat penularan baru menurun.
Dalam laporan yang dirilis hari Jumat, UNAIDS mengatakan 1,4 juta orang memulai pengobatan itu tahun lalu. Kepala UNAIDS, Michel Sidibe, mengatakan akses ke pengobatan akan mengubah tanggapan terhadap AIDS dalam 10 tahun mendatang.
Dalam laporan itu, yang menandai 30 tahun sejak kasus pertama HIV-AIDS muncul, PBB memperkirakan 34 juta orang mengidap HIV pada akhir tahun 2010, naik sekitar 700 ribu dari tahun 2009.
Dikatakan, tingkat infeksi di dunia turun hampir seperempat antara tahun 2001 dan 2009. Penurunan cukup besar terjadi di dua negara yang paling parah terkena HIV/AIDS, yaitu India dengan penurunan 50 persen dan Afrika Selatan dengan penurunan lebih dari 35 persen.
Namun, laporan itu menyebutkan, masih ada “kesenjangan besar dalam pengobatan". Dikatakan, sembilan juta orang, yang berhak mendapat pengobatan pada akhir tahun lalu, tidak memperoleh akses ke terapi retroviral tersebut.
Laporan itu juga menyebutkan, walau persentase infeksi baru menurun secara global, jumlah infeksi secara menyeluruh masih tinggi, sekitar 7.000 infeksi baru per hari.
di sarikan dari VOAnews